Perayaan?

Posted: February 15, 2012 in Catatan Harian

Adakah kata terlambat?

Adakah terlambat untuk sebuah perayaan?

seperti halnya ucapan selamat yang bisa jdi basi dalam tiga hari,apakah perayaan juga bisa terlambat?

Tahun baru sudah berlalu satu bulan lebih, tapi saya baru mau merayakan dengan sebenar-benarnya mungkin hari ini. Ketika saya merasa ingin menjalani hidup dengan lebih baik, berikrar untuk mencapai mimpi dengan lebih serius,menjalani mimpi-mimpi dengan batas realita yang lebih jelas, memandang idealisme sebagai sebuah kesadaran bukan sebagai keharusan.

Barusan saya tercekat sendiri dengan kalimat saya: ‘idealisme sebagai kesadaran bukan keharusan?’

Apakah tahun ini saya sudah sampai titik cynical ini?

Saya baru menyadari bahwa pikiran itu mulai tebersit…

Tulisan ini pertama dibuat awal tahun yang lalu, ketika saya berpikir untuk merefleksikan kembali prioritas saya pada tahun tersebut; ternyata tulisan ini tak pernah selesai di tahun yang sama. Dengan segala keterbatasan (baca: kemalasan) akhirnya tulisan ini baru saya lanjutkan di tahun 2012. Setahun setelah pertama kali tulisan ini terbersit di kepala saya.

Hari ini tanggal 15 Februari 2012, saya baru berkehendak merayakan segalanya.

Pada hari ini: saya punya gaji tetap, saya punya banyak teman yang menelfon saat saya sakit, saya punya suami, saya sebentar lagi melahirkan. Ah ternyata…betapa cepat waktu berlalu…pertanyaan masih sama: apakah masih perlu perayaan?

Saya rasa tidak; saya punya banyak janji bagi diri saya, yang ternyata walaupun diucapkan dengan lantang tetap saja tak banyak berpengaruh dalam hal usaha mewujudkan. Maka semuanya dimulai dengan ini.

Saya berjanji menulis lagi; maka bentuk riilnya adalah menyelesaikan tulisan ini.

Saya berjanji menjadi lebih baik: maka bentuk rrilnya adalah saya minum jus jeruk hari ini.

dan masih banyak lagi..yang nyata-nyata dan mudah-mudah saja dulu lah..

mencoba membiasakan diri menjadi manusia yang lebih baik dan berguna ke depannya..amiinn…

Sajak Sepotong Panada*

Posted: August 15, 2011 in poem a.k.a puisi

Menggigit sepotong panada

tadi malam

terlupa setumpuk luka

yang nanahnya hampir kering

Mencari sepotong panada

kemarin sore

berdua

terlupa marah yang menggeliat

yang liatnya kembali cair

ini sajak melankolis

jangan berharap ada bau penguasa di dalamnya

ini cuma roman picisan

tentang saya

cerita saya

tentang panada

ajaib

sepotong panada

mengantar pada tidur lelap tadi malam

tak bermimpi

tak gelisah

lupa gerah

sepotong panada

harga duaribu

dibeli mejelang buka

di jalan yang tak ingin saya lalui

pelipur lara

penghapus luka

sementara

siang itu

luka menganga selebar belanga raksasa

sore itu

airmata mengalir seperti air terjun niagara

sepanjang perjalanan

sepotong panada

dimakan berdua

membebat luka

sementara

tentang mimpi

tentang rumah

tentang keluarga

tentang mama

tentang papa dan mama

tentang hasrat

mungkin besok harus ada

sepotong panada di atas meja

*terilhami oleh judul sajak W.S. Rendra ‘Sajak Sebatang Lisong’

Makara, Tuesday, August 9, 2011

Rindu #2

Posted: July 26, 2011 in Catatan Harian

Bulan Juli…

Saya yang sekarang tak lagi bisa membaca waktu; saya tak lagi bisa merasakan apakah waktu berjalan terlalu cepat atau terlalu lambat. Saya seperti terdiam, jadi patung, tak bergerak; entah tak bisa atau tak mau, yang saya tahu saya ganti status.

Saya sudah tak banyak berpikir lagi tentang mimpi-mimpi, atau tentang angin yang mendesau perlahan di ambang jendela. Hanya kadang-kadang selalu ada lagu dan perjalanan yang kembali membuat saya berpikir: Saya ada di mana?

Apa benar hidup seperti ini yang saya inginkan?

Kadang saya berpikir, nikmat hidup adalah pencarian yang menyertainya. Sekarang saya sedikit merasa kehilangan pencarian itu, kehilangan teka-teki yang menyertai pencarian itu. Apakah benar begini harusnya hidup saya berputar? Atau ternyata saya memutarnya ke arah yang salah, padahal Tuhan menyiapkan sebuah keindahan luar biasa di putaran sebaliknya? Ahh…manusia memang tak pernah puas.

Jalanan sering terasa begitu panjang untuk dilewatkan begitu saja. Saya rindu berjalan sendiri dalam kegelapan, berdebar mengira-ngira apa yang menunggu di balik kegelapan. Begitulah kadang perjalanan panjang menuju rumah mertua terasa bagi saya. Duduk di belakang seseorang yang terasa begitu mencintai saya, saya kadang berpikir benarkah saya mencintainya? Kita manusia tidak pernah bisa benar dalam menafsirkan putaran dunia bukan?

Kita belum tentu benar dalam menafsirkan cinta atau sepi karena hati itu tak ada yang tahu.

Jika Engkau berkenan

Posted: May 16, 2011 in Catatan Harian

Tuhan…

tolong beri saya sedikit kesempatan untuk menanam

menanam apa yang tak sempat tumbuh di dunia kecil saya saat ini

Tuhan, jika Engkau berkenan…

biarkan mimpi kami tumbuh, bertunas, berbunga, dan berbuah

Tuhan, hanya jika Engkau berkenan…

perkenankan saya memiliki setidaknya satu anak lakilaki sebagai pelindung saya dan yang terkasih di hari tua kami

pada masa kecilnya akan saya ajari menghargai wanita

akan saya ajari sakitnya tertolak

akan saya ajari bagaimana ibunya minta dihargai sebagai wanita agar kelak ia mengerti bagaimana memperlakukan wanita

akan saya ajari bagaimana memberikan yang terbaik bagi wanita tercinta tanpa membuatnya menderita

Tuhan, perkenankanlah ia … pangeran kecil dalam mimpi kami

agar kami ajari menjadi ayah yang bertanggung jawab pada anak dan keluarganya

agar kami ajari bahwa memberi mahar besar bukanlah kebanggaan

agar kami ajari bahwa anak wanita bukanlah barang untuk ditukar dengan harta

agar kami ajari bahwa Engkaulah satusatunya pemilik Yang Serba Memiliki

Tuhan, jika Engkau berkenan…

perkenankan hamba pada seorang putri yang akan menjaga kami di hari tua

yang akan mengiringi saudara lelakinya sampai pada mimpinya

yang akan tertawa pada kegembiraan saudara dan orang tuanya

yang akan turut menangis saat saudaranya bersedih

yang sanggup memberi kekuatan pada dunia di sekelilingnya

Tuhan, hanya jika Engkau berkenan

akan kami ajari ia bagaimana menjadi hambaMu yang baik

akan kami ajari bagaimana menjadi istri yang baik bagi suaminya

akan kami ajari bahwa wanita terbaik adalah yang tak menyulitkan lelakinya

akan kami ajari bahwa uang dan emas bukanlah kebahagiaan

akan kami ajari ia menjadi pelita

Tuhan, hanya jika Engkau berkenan…

ingin sekali saya tanam apa yang tak sempat saya tuai di dunia saya

yang tak sempat berbenih…

berterima kasih pada budi sekecil biji sawi

bersyukur pada nikmat sakit yang masih sudi Engkau berikan sebagai tanda Engkau masih menengok

memohon maaf ketika tak sengaja menginjak kaki adik

atau tersenyum penuh kasih sambil berkata: ‘Good job my son, u r really my sunshine.’

Tuhan, perkenankan hamba pada sebuah pinta

yang kecil namun begitu besar

yang besar sekaligus begitu kecil

wahai Engkau Yang Maha Menguasai…

biarkan kereta kami sampai pada stasiun terakhirnya

saat itu Engkau berkenan menutup mata kami, mengistirahatkan mimpi kami dalam sebuah tidur panjang tak bermimpi

Tuhan, mesinnya telah kami nyalakan

kami memohon Engkau sudi menyalakan lampu hijau di depan sana

supaya kereta kami bisa melaju

kami telah bersiap pada jalan berliku, naik turun, pemandangan indah, atau pemukiman kumuh di kanan kiri

bahkan rel yang anjlok atau jembatan yang putus di atas sungai

hanya jika lampu hijaumu menyala

redup pun tiada apa, karena kami mengerti kami tak cukup merawat lampu itu

tapi Tuhan…Engkaulah penentu..

perkenankanlah…

amin

ngLangut

Posted: March 15, 2011 in poem a.k.a puisi

mungkin cuma sebentar bayangan bisa timbul tenggelam..

cuma ketika matahari tertutup awan

sedang awan terus berarak

Dua hari yang lalu datang petugas-petugas dari Sudin Pendidikan provinsi didampingi pengawas sekolah untuk meninjau dalam rangka izin prinsip SMPIT Insan Mulia Jakarta.

Banyak catatan untuk sekolah ini. Kalau disimpulkan: bagi mereka yayasan tidak serius menangani sekolah ini.

Tempat pertama yang ditinjau adalah Lab IPA yang sungguh memprihatinkan menurut komentar mereka. Begitu pula dengan ruangan-ruangan lainnya. Bahkan ketika meninjau ruang Kepala Sekolah dan Perpustakaan mereka sempat berkata: “Ini sih sekolah-sekolahan.”

Sungguh menyedihkan.

Mereka meminta yayasan untuk kembali mempelajari delapan Standar Nasional Pendidikan, karena untuk mendapatkan izin prinsip maka sebuah sekolah harus memenuhi sekurang-kurangnya enam standar.

Saya jadi terpikir banyak hal…

Yang pertama adalah menyiapkan surat lamaran dan CV untuk melamar di tempat lain, terdengar pengecut memang tapi begitulah adanya hal pertama yang melintas di kepala sebelum akhirnya terkalahkan oleh akal sehat. Yang jelas saat ini saya menyadari bahwa formasi di sekolah ini sedang berada pada titik puncak kekuatannya.

14 April 2010

Minggu ini adalah minggu pertama saya kembali ke sekolah. Kembali dalam aktiftas yang kalau diucapkan dengan niat menggugah perasaan pembaca maka akan terbaca ‘mencerdaskan anak bangsa’ padahal kalimat ini akan terbaca seperti ‘tak punya kerjaan lain sehingga mengajar saja yang dikerjakan tapi saya malu buat mengakui kalau saya tak suka mengajar’.

Huh…

Belakangan ini saya menemukan ruh saya di dalam kelas; mungkin juga dikarenakan dua minggu libur dan beberapa hari liburan ke Malang (tempat liburan favorit dimana saya hanya menghabiskan waktu dengan makan tidur nonton gosip dan pergi ke pasar bersama tante yang biasa saya panggil mama, ngecet rumah atau nangkep ayam bersama om yang sejak kecil saya panggil papa, dan nongkrong di warnet atau tengkurap di kasur bersama dua sepupu tercinta). Liburan ke Malang yang cuma dua hari dua malam itu cukup untuk menyuntikkan semangat sampai seolah-oleh saya berani menantang bumi untuk menggulingkan matahari (lebay).

Minggu pertama di sebuah SMP disekitar Rumah Sakit Persahabatan tempat saya sekarang mencoba membiasakan diri dengan pekerjaan yang menuntut seriusme tingkat tinggi dan pelajaran adaptasi serta pemahaman level tinggi bagi saya terasa penuh kejutan dan selalu membuat bibir saya terangkat membentuk senyum. Apa pasal? Senin yang akan datang adalah hari pemilihan Kepala Sekolah baru yang para calonnya diambil dari para guru tetap di sekolah tersebut. Lalu di mana trigger-nya? Ceritanya saya ini salah satu pemilih yang suaranya menentukan siapa nanti yang akan menjadi Kepala Sekolah. Nah, di sini cerita mulai menarik. Beberapa guru mendekati saya yang nota bene bukan kawan favorit mereka untuk mengobrol bahkan terbiasa memasuk-masukkan diri ke dalam obrolan di ruang guru karena kecenderungan saya untuk menunjukkan kekeraskepalaan dan idealisme saya terhadap apa yang guru lain anggap biasa dan harus dimaklumi membuat saya mulai terasing atau boleh dibilang mengasingkan diri kecuali dari guru Agama yang diam-diam punya pikiran mirip dengan saya walau dibiarkannya mengapung seperti batubara di atas permukaan air. Singkat cerita, mereka menjelekjelekkan Kepala Sekolah yang masih menjabat dan tentunya akan dicalonkan juga dalam pemilihan hari Senin nanti. Satu dari mereka bahkan menyatakan bahwa si Bapak tersebut suka menjelekkan saya ketika saya tidak ada, mencerca revisi penelitian yang saya buat dalam membantu tesis dan penelitiannya, wah…pokoknya macam-macam deh…

Hahaha…

Saat itu saya cuma bisa mengakhiri pembicaraan dengan tersenyum (dibuat) semanis mungkin (kalau saya bisa terlihat manis) dan berkata ‘Ya Ibu…saya lihat nanti aja lah di sana, kan saya mah belum kenal siapa-siapa di sini.’

Padahal sebetulnya satu hal yang sudah pasti dalam kepala saya: saya tidak akan memilih seorang rekan kerja yang tega menjelekkan mantan pimpinannya (lepas dari benartidaknya) dalam rangka menjatuhkan kredibilitas si pimpinan tersebut. Lho? Apa kabar gosip kantor kalau begitu? Kabarnya baik-baik saja…haha..saya membuat dualisme sendiri jika bicara tentang gosip kantor. Gosip itu katanya dosa (saya pilih diksi ‘katanya’ untuk menegaskan bahwa dosa itu bukan urusan saya dan anda, tapi urusan Tuhan) tapi menjelekkan pimpinan dalam rangka merebut kurisnya itu namanya TAK TAHU TERIMA KASIH dan untuk kasus saya ini bisa jadi fitnah. Ya, si guru tersebut tega memfitnah bapak pimpinan dalam rangka merusak kedekatan saya dengan beliau guna mendapatkan suara saya untuk rekan guru yang lain.

Ah…tak heran siswa saya tadi pagi tak mengerjakan PR semua. Bayangkan…satu kelas yang berjumlah 26 orang tidak mengerjakan tugas yang isinya cuma lima nomor dengan tugas mencari lawan kata. Oalahhh…

Saya menyadari saya belum jadi guru yang baik, tapi terang saya tak bercita-cita untuk jadi guru yang buruk. Bagaimanapun juga saya ingin siswa saya memiliki cita-cita dan rasa percaya setinggi langit pada dunia mereka. Tapi bagaimana bisa? Bahkan saya pun tak lagi percaya pada rasa cinta rekan-rekan saya di sekolah…

Jika memang kita bicara tentang kebaikan dan kepentingan siswa maka kita tak perlu saling menjatuhkan bukan?

Jika kita memang bergerak untuk membuat siswa kita menjadi manusia yang lebih baik dan terus belajar jadi sempurna bukankah kita tak perlu khawatir tentang siapa yang menjadi pimpinan?

Tapi saya sendiri kini mulai khawatir…

Kalau saja saya memiliki kekuatan untuk memberhentikan matahari dari gelincirnya yang tanpa henti…

Ah…anak-anakku…