Menggigit sepotong panada
tadi malam
terlupa setumpuk luka
yang nanahnya hampir kering
Mencari sepotong panada
kemarin sore
berdua
terlupa marah yang menggeliat
yang liatnya kembali cair
ini sajak melankolis
jangan berharap ada bau penguasa di dalamnya
ini cuma roman picisan
tentang saya
cerita saya
tentang panada
ajaib
sepotong panada
mengantar pada tidur lelap tadi malam
tak bermimpi
tak gelisah
lupa gerah
sepotong panada
harga duaribu
dibeli mejelang buka
di jalan yang tak ingin saya lalui
pelipur lara
penghapus luka
sementara
siang itu
luka menganga selebar belanga raksasa
sore itu
airmata mengalir seperti air terjun niagara
sepanjang perjalanan
sepotong panada
dimakan berdua
membebat luka
sementara
tentang mimpi
tentang rumah
tentang keluarga
tentang mama
tentang papa dan mama
tentang hasrat
mungkin besok harus ada
sepotong panada di atas meja
*terilhami oleh judul sajak W.S. Rendra ‘Sajak Sebatang Lisong’
Makara, Tuesday, August 9, 2011








