Tentang Guru, Pemilihan Kepala Sekolah, dan Gelincir Matahari

Posted: January 7, 2011 in Catatan Pendidik

Minggu ini adalah minggu pertama saya kembali ke sekolah. Kembali dalam aktiftas yang kalau diucapkan dengan niat menggugah perasaan pembaca maka akan terbaca ‘mencerdaskan anak bangsa’ padahal kalimat ini akan terbaca seperti ‘tak punya kerjaan lain sehingga mengajar saja yang dikerjakan tapi saya malu buat mengakui kalau saya tak suka mengajar’.

Huh…

Belakangan ini saya menemukan ruh saya di dalam kelas; mungkin juga dikarenakan dua minggu libur dan beberapa hari liburan ke Malang (tempat liburan favorit dimana saya hanya menghabiskan waktu dengan makan tidur nonton gosip dan pergi ke pasar bersama tante yang biasa saya panggil mama, ngecet rumah atau nangkep ayam bersama om yang sejak kecil saya panggil papa, dan nongkrong di warnet atau tengkurap di kasur bersama dua sepupu tercinta). Liburan ke Malang yang cuma dua hari dua malam itu cukup untuk menyuntikkan semangat sampai seolah-oleh saya berani menantang bumi untuk menggulingkan matahari (lebay).

Minggu pertama di sebuah SMP disekitar Rumah Sakit Persahabatan tempat saya sekarang mencoba membiasakan diri dengan pekerjaan yang menuntut seriusme tingkat tinggi dan pelajaran adaptasi serta pemahaman level tinggi bagi saya terasa penuh kejutan dan selalu membuat bibir saya terangkat membentuk senyum. Apa pasal? Senin yang akan datang adalah hari pemilihan Kepala Sekolah baru yang para calonnya diambil dari para guru tetap di sekolah tersebut. Lalu di mana trigger-nya? Ceritanya saya ini salah satu pemilih yang suaranya menentukan siapa nanti yang akan menjadi Kepala Sekolah. Nah, di sini cerita mulai menarik. Beberapa guru mendekati saya yang nota bene bukan kawan favorit mereka untuk mengobrol bahkan terbiasa memasuk-masukkan diri ke dalam obrolan di ruang guru karena kecenderungan saya untuk menunjukkan kekeraskepalaan dan idealisme saya terhadap apa yang guru lain anggap biasa dan harus dimaklumi membuat saya mulai terasing atau boleh dibilang mengasingkan diri kecuali dari guru Agama yang diam-diam punya pikiran mirip dengan saya walau dibiarkannya mengapung seperti batubara di atas permukaan air. Singkat cerita, mereka menjelekjelekkan Kepala Sekolah yang masih menjabat dan tentunya akan dicalonkan juga dalam pemilihan hari Senin nanti. Satu dari mereka bahkan menyatakan bahwa si Bapak tersebut suka menjelekkan saya ketika saya tidak ada, mencerca revisi penelitian yang saya buat dalam membantu tesis dan penelitiannya, wah…pokoknya macam-macam deh…

Hahaha…

Saat itu saya cuma bisa mengakhiri pembicaraan dengan tersenyum (dibuat) semanis mungkin (kalau saya bisa terlihat manis) dan berkata ‘Ya Ibu…saya lihat nanti aja lah di sana, kan saya mah belum kenal siapa-siapa di sini.’

Padahal sebetulnya satu hal yang sudah pasti dalam kepala saya: saya tidak akan memilih seorang rekan kerja yang tega menjelekkan mantan pimpinannya (lepas dari benartidaknya) dalam rangka menjatuhkan kredibilitas si pimpinan tersebut. Lho? Apa kabar gosip kantor kalau begitu? Kabarnya baik-baik saja…haha..saya membuat dualisme sendiri jika bicara tentang gosip kantor. Gosip itu katanya dosa (saya pilih diksi ‘katanya’ untuk menegaskan bahwa dosa itu bukan urusan saya dan anda, tapi urusan Tuhan) tapi menjelekkan pimpinan dalam rangka merebut kurisnya itu namanya TAK TAHU TERIMA KASIH dan untuk kasus saya ini bisa jadi fitnah. Ya, si guru tersebut tega memfitnah bapak pimpinan dalam rangka merusak kedekatan saya dengan beliau guna mendapatkan suara saya untuk rekan guru yang lain.

Ah…tak heran siswa saya tadi pagi tak mengerjakan PR semua. Bayangkan…satu kelas yang berjumlah 26 orang tidak mengerjakan tugas yang isinya cuma lima nomor dengan tugas mencari lawan kata. Oalahhh…

Saya menyadari saya belum jadi guru yang baik, tapi terang saya tak bercita-cita untuk jadi guru yang buruk. Bagaimanapun juga saya ingin siswa saya memiliki cita-cita dan rasa percaya setinggi langit pada dunia mereka. Tapi bagaimana bisa? Bahkan saya pun tak lagi percaya pada rasa cinta rekan-rekan saya di sekolah…

Jika memang kita bicara tentang kebaikan dan kepentingan siswa maka kita tak perlu saling menjatuhkan bukan?

Jika kita memang bergerak untuk membuat siswa kita menjadi manusia yang lebih baik dan terus belajar jadi sempurna bukankah kita tak perlu khawatir tentang siapa yang menjadi pimpinan?

Tapi saya sendiri kini mulai khawatir…

Kalau saja saya memiliki kekuatan untuk memberhentikan matahari dari gelincirnya yang tanpa henti…

Ah…anak-anakku…

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s