UNJ…Universitas Negeri Jakarta..
dulu dikenal sebagai IKIP atau Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan, sekarang jadi Universitas-tak beda dengan perguruan tinggi lainnya.
lalu…apa yang menarik sampai jadi tulisan?
saya tertarik pada topik ini karena buat saya kasus ini membuat UNJ jadi seperti tak punya jati diri. demikian pula yang terjadi dengan mahasiswanya.
saya teringat akhir tahun lalu saya dan teman-teman mengantar siswa kami berkunjung ke UNJ, saat itu kami dapat kehormatan diterima oleh mahasiswa dari BEM UNJ yang juga mempresentasikan tentang jurusan dan fakultas di UNJ. sayangnya…saya terkaget-kaget dengan pernyataannya: “lulusan UNJ tidak harus jadi guru kok”
oh nooo…kedengarannya biasa saja memang. tapi buat saya..aneh. kenapa aneh? karena jika begitu keadaannya di pandangan mahasiswa..maka apa keunggulan UNJ?
kalau jawabannya adalah bahwa UNJ bisa mencetak tenaga pendidik, lalu kenapa UNJ jadi Universitas bukannya tetap jadi IKIP saja?
bukankah kalau jadi universitas jadinya UNJ adalah universitas yang masih bayi. baru memulai. kalau dulu tante saya yang juga lulusan IKIP ditanya:
“bagusan mana IKIP atau UI-Universitas Indonesia-?” tante saya dengan ringan bisa menjawab..ow…di sisi universitas jelas lebih bagus UI-saya pun mengakui itu- tapi yang jelas IKIP sesuai dengan namanya adalah pencetak tenaga pendidik. kekhususannya memang itu jadi tidak bisa disandingkan dengan universitas.
nah…kalau sekarang? apa kekhususan UNJ? sekali lagi..kalau jawabannya dalah mencetak tenaga pendidik, lalu kenapa UNJ yang tadinya IKIP harus jadi UNJ?
kalau boleh jujur, saya sebagai mahasiswa UNJ berani bilang: kampus saya ini lagi mencari jati diri.
yang jelas Indonesia tak lagi punya institusi khusus yang mencetak tenaga pendidik profesional.
saya banyak menyarankan pada lulusan SMA yang mau melanjutkan ke perguruan tinggi: kalau kalian tertarik mesuk ke universitas mantan IKIP maka pilihlah yang program studi pendidikan. bukannya saya menafikan jurusan yang non-pendidikan. tapi saya berpikir…bagaimanapun juga lembaga-lembaga bekas IKIP ini pada desainnya tetap berisi para ahli di bidang pendidikan. coba anda hitung sudah berapa lama IKIP ambil bagian dalam urusan percetakan lembaga pendidikan?
lalu berapa lama UI berurusan dengan ilmu-ilmu “murni” (saya bilang begitu karena tak bisa menemukan term yang pas buat program studi non-pendidikan).
yah..anda bisa berpikir sendiri lah..
bagaimanapun..banggalah terhadap almamater saya, saya pun bangga jadi mahasiswa UNJ makanya bisa lahir tulisan ini…saking sayangnya dan perhatiannya saya pada almamater saya ini..:)









Jadi, rasanya omong kosong kita berharap bahwa sistem demokrasi bisa melahirkan para pemimpin yang amanah.
mmm….kirakira gimana ya? saya gak komentar deh buat yang ini..hehehe