pengalaman Ujian Nasional sudah berapa kali ya? yang jelas kalau sebagi peserta jelas cuma sekali. tapi sebagai pengajar entah sudah berapa kali. yang jelas saya sendiri tidak terlalu memperhatikan namanya, mau ujian akhir nasional kah..atau Ujian Nasional juga saya tak terlalu ambil pusing.
yang jelas saya agak khawatir pada lingkaran yang melingkupi Ujian Akhir di Indonesia ini. saya sendiri tidak tahu apakah hal ini juga berlaku dinegara lain. tapi yang jelas..jika bicara masalah pendidikan di Indonesia..saya agak sulit buat berbangga diri.
seakan sudah jadi rahasia umum bahwa nilai ujian nasional siswa baik tingkat dasar, maupun menengah (baik menengah pertama maupun menengah atas) nilai ujian nasional yang dicapai siswa itu bukan nilai yang sebenarnya..alias nilai hasil katrol guru. mungkin tidak semua siswa, tapi yang jelas bagi guru setiap siswa berhak atas nilai katrol dalam ujian nasionalnya. entah di mana yang salah, saya sendiri tak ingin mencari siapa yang salah. saya hanya menyesalkan, seperti saat ini, saat tulisan ini dibuat saya seperti merasakan sesak menggunung yang ingin meledak.
saya jadi tak lagi terlalu bangga dengan nilai ujian akhir saya yang selalu rata-rata tujuh sejak Sekolah Dasar. saya tak bisa lagi dengan bangga berkata NEM SMP saya 42,31 dari 6 mata pelajaran yang diujikan, karena saya tak tahu apakah nilai itu memang nilai saya atau ada satu atau dua atau tiga atau empat atau bahkan lima nilai hasil katrol karena nilai teman-teman saya juga perlu dikatrol sehingga mau tak mau nilai saya juga dapat jatah katrol. saya tak ragu pada kemampuan saya untuk mencapai nilai di atas rata-rata teman-teman sekolah saya yang lain, tapi saya ragu apakah memang benar setinggi itu? begitu pula saat bicara tentang nilai SMU. sekarang..ketika saya (pernah) menduduki jabatan guru, justru kebanggaan saya itu hilang.
memang sekarang tidak sedikit juga siswa yang tidak lulus ujian nasional tapi…semua orang seperti sepakat bahwa mereka yang tidak lulus adalah mereka yang nilainya sudah terlalu rendah buat dikatrol alias sudah tidak tertolong lagi.
kalau sudah begini, sebetulnya dimana letak pentingnya ujian nasional? dimana pentingnya masa belajar tiga atau enam tahun yang sudah ditempuh? atau…apa sebenarnya yang dilakukan guru dalam kelas sehari-hari? apa sebenarnya yang dilakukan siswa setiap hari?
dalam buku berjudul Dari KBK sampai MBS (2005), Romo Drost mantan Rektor IKIP Sanata Darma mengatakan bahwa Indonesia itu sebetulnya punya sistem pendidikan yang tak jelas mau dibawa kemana. dibilang berbasis kompetensi juga gurunya tak jelas kompetensinya. lebih jauh beliau mengatakan bahwa mahasiswa IKIP atau yang berminat jadi guru lahhh adalah mahasiswa kelas dua. kenapa kelas dua? menurut beliau karena nilai yang dibuutuhkan untuk menuju kesana juga tidak terlalu besar dan peminatnya tidak terlalu banyak. hal ini mungkin dikarenakan profesi guru bukan profesi dambaan orang tua sehingga siswa juga tidak dimotivasi oleh orang tua untuk jadi guru. kalau dati pengalaman saya bahkan mahasiswa UNJ yang dulunya IKIp sendiri sering berkata: “masuk UNJ ga harus jadi guru kok.” lalu apa kebanggaan jadi guru? saya sendiri tidak memungkiri kebenaran kata-kata tersebut, bahwa mahasiswa UNj atau universitas eks IKIP yang lain tak harus jadi guru, tapi…UNJ (dan universitas eks IKIP lainnya) jadi kehilangan jati dirinya..
lalu Indonesia punya lembaga apa yang memang serius untuk mencetak tenaga pendidik berkualitas? saya tidak bilang UNJ (dan universitas eks IKIP lainnya) tidak serius lagi, tapi yang jelas…(cobalah untuk jujur) universitas eks IKIP saat ini juga lebih banyak serius untuk mengembangkan jurusan non kependidikannya kan? tentu saja..mereka ini kan jurusan yang baru dibuka…
kalau sudah begini siapa yanng mau memperhatikan sumber daya pendidik kita? orang tua siswa? siswa? ah..mereka sudah pusing dengan biaya pendidikan yang seperti berlomba buat naik. sekolah? ahh..mereka sudah sibuk dengan mencapai standar internasional.
sebentar lagi mungkin akan banyak orang berminat menjadi guru, tapi jika ditilik lagi..tahukah anda kenapa? karena pemerintah menjanjikan honor minimal 5juta Rupiah untuk tenaga pengajar!! di tangan orang yang maju dengan jiwa oportunis atau motivasi honor setinggi langit, apakah siswa bisa jadi siswa yang mandiri? apakah siswa kita bisa jadi lebih siap menghadapi dunia perguruan tinggi?
bagi saya profesi guru sampai saat ini masih dianggap sebelah mata. semua orang mengakui bahwa guru atau tenaga pendidik adalah tenaga profesional selayaknya dokter atau pengacara atau akuntan, tapi coba anda lihat proses pembentukannya…di UNJ sendiri mereka yang lulus lebih cepat dianggap lebih pandai dari yang lulus lebih lama. saya bukan bela diri, saya sendiri lulus lama memang karena sayanya yang malas. tapi pendidikan tenaga profesional lain memakan waktu setidaknya tujuh tahun dengan dua tahun dihabiskan di lapangan. lihat profesi dokter..ada koas selama dua tahun, ada juga PTT, dalam jangka waktu tersebut mereka benar-benar menghadapi apa yang dihadapi dokter yang sudah bertahun-tahun di rumah sakit. begitu juga penggacara dan akuntan. tapi lihat guru..cuma satu semester dihabiskan untuk PPL alias Program Pengenalan Lapangan..ya ga heran kalau si guru ini akhirnya dengan teganya mengatrol nilai siswa di sekolahnya supaya bisa lulus.
jadi…jangan salahkan presiden kalau dia korupsi, salahkan gurunya waktu SD. kenapa? pilihan hidup itu didasari dari apa yang seseornag percayai sejak kecil, nilai-nilai dasar hidupnya itu nilai yang ditanamnkan saat ia sendiri masih belum bisa berpikir jernih.
jangan juga salahkan suami Cici Paramida kalau dia memilih buat menabrak istrinya saat ketauan selingkuh..coba korek dan ajak bicara beliau, tanya nilai yang dia percayai dalam sepanjang hidupnya..pasti ada yang melenceng..salaha siapa? saya tidak mencari kambing hitam, tapi jelas guru..sesuai namanya..punya andil.
saya masih menunggu saat UNJ, UPI, dan universitas eks IKIP lainnya kembali jadi IKIP…atau mungkin pulang ke pangkuan Universitas Indonesia sebagai Fakultas Kejuruan dan Ilmu Pendidikan, supaya yang terhormat para dosen yang akan menguji skripsi saya nanti bisa benar-benar berdiri, duduk, diam, tidur, makan, minum, ngobrol, membaca, menulis, dan meneliti..ranah pendidikan sahaja. semoga..amiiinnn…
ditulis dengan ketidaktahuan saya alasan kenapa IKIP Jakarta harus jadi UNJ dan kenapa juga lulusan Pendidikan Bahasa Inggris IKIP Jakarta harus jadi wirausaha sementara lulusan Sastra Jepang UI jadi pengajar Bahasa Inggris. sing bodo kuwi sopo? gurune opo muride?